 |
Monumen penanda gedung Modderlust dan perjuangan generasi pertama TNI AL. Foto: Serka Angga Sanjaya |
 |
Lokasi monumen diseberang monumen Jalesveva. Foto : Serka Angga Sanjaya |
Kawasan pangkalan Angkatan Laut Ujung adalah salah satu aset penting Indonesia yang dibangun oleh Belanda, berturut kemudian dikuasai Jepang. Bagaimana kisah hari pertama bendera sang saka merah putih berkibar ditempat ini?
Mari kita simak penuturan dari Moh.Affandi yang menuliskan pengalamannya dalam buku "Pengalaman Pribadi dalam Masa Perjuangan Kemerdekaan" halaman 26 sebagai berikut :
Sejak tanggal 29 September 1945
telah terjadi pengepungan terhadap SE 21/24 Butai ( kini pangkalan Angkatan
Laut Ujung ). Pencegatan dan penawanan terhadap serdadu Jepang yang keluar atau
masuk SE 21/24 Butai dimulai jam 4 sore pada tanggal 1 Oktober 1945.
Pada jam 10 malam Samsidi datang
ke tempat tawanan dikumpulkan, dengan bantuan tawanan Jepang yang dapat bicara
bahasa Indonesia, kami menjelaskan pada tawanan lain agar SE 21/24 Butai segera
diserahkan saja pada rakyat. Para tawanan Jepang mengatakan bahwa tak ada
satupun dari mereka yang memiliki kewenangan tersebut, penyerahan setidaknya
dilakukan oleh Butaitjo.
Saya kembali ke Benteng Miring
dan menyampaikan hal tersebut, golongan muda mengusulkan supaya perebutan
dilakukan saja dengan cara kekerasan. Latip mengusulkan menawan para pimpinan
Butaitjo dan Munadji menerangkan dia tahu rumah-rumah para pembesar Butaitjo di
kawasan Ketabang dan Darmo, usul inipun diambil. Munadji ditugaskan menunjukkan
rumah-rumah yang akan digerebek. Latip dan Sutedjo Eko memimpin BKR Laut dan
PRIAL melakukan penculikan dan penawanan. PRI Utara dan BPRI membantu angkutan.
Jam 2 malam Latip dan Sutedjo Eko
kembali ke Benteng Miring dengan laporan bahwa yang bisa diselesaikan hanya
yang ada di Ketabang saja. Mereka kembali karena paginya semua telah menyiapkan
serbuan serentak atas SE 21/24 Butai.
Serbuan direncanakan datang dari
dua jurusan. Saya akan memimpin penyerbuan dari sepanjang Kalimas bergabung
dengan pasukan Rambe yang datang dari jembatan Ferwerda. Soetedjo Eko dan Latip beserta orang-orangnya
menyerbu dari Tanjung Perak dan menyeberangi Kalimas melalui dermaga trem
Madoera.
Harun dan Samsidi mengerahkan
orang-orang kampung Nyamplungan dan Sukodono untuk bersama-sama membuat
takeyari/bambu runcing dari bambu apus
milik pedagang bambu yang bertumpuk-tumpuk di Benteng Miring.
Jam 3 malam Samsidi dan Munadji
kembali mengecek ke lokasi tawanan untuk melihat apakah penculikan Butaijo
berhasil atau tidak. Ternyata Latip dan Sutedjo Eko tidak bisa memastikan
apakah betul mereka anggota Butaitjo karena info dari Munadji hanya nomor-nomor
rumah saja, tanpa informasi nama penghuni.
Keadaan semakin tegang, jika
Jepang tidak menerima maksud kami untuk menyerahkan pangkalan angkatan laut,
maka emosi massa diluar sana takkan terbendung. Para tawanan pasti akan
dibinasakan dan pangkalan angkatan laut akan diserbu.
Diantara tawanan yang berjejal
dan berjongkok, seorang berteriak
“Kaigun bersedia menyerahkan SE 21/24 Butai tapi harus secara resmi
seperti yang biasa dilakukan kedua negara, harus dilakukan pembesar Nippon dan
pembesar Indonesia dan harus tertulis diatas kertas”.
Akhirnya didapat persetujuan
bersama, akan diberikan surat perintah kepada semua personil Kaigun di SE 21/24
Butai agar tidak melakukan perlawanan. Surat ini setelah dicap oleh Markas
Kaigun Embong Wungu harus diberikan kepada pos penjagaan Jepang di pangkalan
Ujung.
Saya perintahkan Munadji untuk
mengurus surat itu ke Embong Wungu dan harus diberikan pada saya ke Benteng
Miring paling lambat jam 8 pagi. Di Benteng Miring kami mengkoordinasikan
perintah kepada badan-badan perjuangan yang terlibat agar jika Jepang menyerah
dan tidak melakukan perlawanan maka kita jamin keselamatan mereka.
Pada jam 5 pagi warga dan buruh
sudah mulai berdatangan ke Benteng Miring, sebagian besar telah bersenjata.
Bagi yang datang tanpa senjata diperintahkan untuk membuat sendiri bambu
runcingnya dengan segera. Walau sudah ada peluang kemungkinan Jepang menyerah
namun harus disiapkan segala kemungkinan, seluruh warga yang terlibat wajib
bersenjata.
Rombongan warga ini diatur dalam
kelompok-kelompok beserta bagian-bagian tugas oleh Samsidi dan Harun. Saya dan
para pimpinan kelompok PRI AL, PRI Utara, BPRI dan BBIAL mengambil posisi
berhadapan dengan pos penjagaan Jepang dekat jembatan Ferwerda dalam jarak 50
meter. Dari seberang jembatan Ferwerda
datanglah Rambe melaporkan PRI Utara dengan ribuan buruh PAL dan warga siap
menggabungkan diri dengan barisan yang saya pimpin. Samsidi melaporkan rakyat
yang bergabung berjumlah tiga ribu orang dan dalam perjalanan terus mengalir
massa rakyat dari bermacam badan perjuangan diperkirakan berjumlah 6.000 orang.
Karena banyaknya massa rakyat yang bergabung maka diputuskan nantinya akan
bergerak masuk dari dua arah, dari sisi Kalimas dan dari jalan darurat
Mokodjoseng.
Munadji akhirnya datang pada
hampir jam 8 pagi. Dia menyerahkan surat perintah yang telah dicap kepada saya.
Saya serahkan kembali surat tersebut kepada Munadji dan memberinya perintah
supaya dengan motornya secepat mungkin masuk ke pangkalan Ujung dan menyerahkan
surat tersebut dan saya tunggu dia kembali dan memberi laporan
selambat-lambatnya jam 9 pagi. Mereka berangkat dua orang dengan motor, saya
tidak ingat siapa yang memegang setir dan siapa yang duduk di zijspan. Setelah
Munadji berangkat datanglah bantuan dari pasukan Kepolisian dengan mitraliur
dan senjata-senjata lengkap. Setelah mendapat penjelasan rencana penyerangan
dari saudara Harun, mereka mengadakan stelling didekat saya.
Jam menunjukkan 9 kurang seperempat,Munadji
belum juga kembali. Hati saya mulai gelisah, apakah pimpinan Jepang di Ujung
menolak perintah atasannya? Apakah Munadji ditawan ? ataukah dia dibunuh?
Macam-macam fikiran membuat semakin tegang.
Para penjaga Jepang dipos dekat
Ferwerda yang semula siap berstelling dibalik tumpukan pasir tiba-tiba masuk
kerumah penjagaan dan meninggalkan stellingnya. Kemudian dua serdadu Jepang
dengan sepedanya meninggalkan penjagaan menuju Ujung. Komandan Polisi
mendatangi saya dan mengatakan ia akan memindahkan satu regu menduduki tumpukan
karung pasir yang ditinggalkan pasukan Jepang, dengan alasan karung-karung itu
akan menjadi perlindungan jika pasukan Jepang dalam rumah penjagaan membuka
tembakan sekaligus jika itu terjadi maka akan mudah memusnahkan mereka dengan
lemparan satu granat dari posisi tumpukan karung tersebut.
Saya menyetujui usul itu, namun
rupanya gerakan ini menimbulkan salah duga dari rakyat yang telah berjam-jam
menunggu. Mereka semuanya turut bergerak, tetapi setelah mengetahui bahwa
Polisi hanya berpindah stelling saja, mulai terdengar makian, teriakan dan
cemoohan-cemoohan khas Surabaya. Mereka bukan orang-orang yang sabaran.
Ada kalanya saya ingin menuruti
kehendak rakyat, dalam sekali sapuan saja rumah penjagaan itu tentunya dapat
dimusnahkan. Tapi pikiran lain mengatakan bahwa sebagai pimpinan saya harus
tepati janji, ribuan rekan dan rakyat mempercayakan kepemimpinan pada saya.
Alhamdulillah akhirnya dari jauh
terdengar suara motor, Munadji datang. Keadaan yang hiruk pikuk seketika
menjadi sunyi,jam menunjukkan 9 kurang 2 menit. Munadji mengatakan bahwa
pimpinan Jepang di Ujung setuju untuk tidak melakukan perlawanan. Saya
perintahkan Latip dan Sutedjo Eko memastikan bahwa jalanan didepan aman, baik
yang sepanjang Kalimas maupun jalan darurat Mokodjoseng. Pasukan rakyat mulai
bergerak masuk pada jam 9 pagi.
Saya perintahkan mereka bergerak
dengan aba-aba “siaaap” , diikuti para sokutaku menyiapkan barisannya
masing-masing yang mereka pimpin. Teriakan “siaap” bersahut-sahutan. Pasukan
Polisi menggerebek rumah penjagaan dan sama sekali tak ada perlawanan.
Dari jembatan Ferwerda ribuan
rakyat berbaris masuk, mulai awalnya berbanjar 4 lama kelamaan menjadi
berbanjar 8 memenuhi jalan. Saya berjalan paling depan bersama Samsidi, Harun
dan beberapa pimpinan badan perjuangan dan dibelakang saya barisan pasukan
pendekar.
Hati saya dipenuhi perasaan
bangga dan penuh keyakinan bisa memusnahkan apasaja yang menjadi penghalang
perintang jalan. Saya yakin perasaan ini juga ada dihati tiap rakyat dalam
barisan. Barisan depan yang panjang bergerak dengan langkah teratur, tenang dan
rapi. Entah bagaimana halnya dengan barisan belakang yang dilaporkan tiada
habis-habisnya.
Jauh sebelum memasuki pintu
gerbang, saya disambut saudara Latip yang melaporkan bahwa tidak ada perlawanan
didepan. Semua pasukan masuk menduduki lapangan Ujung dan Modderlust. Dalam
perjalanan,bendera merah putih yang dibagikan saat di Benteng Miring mulai
dikeluarkan dari dalam baju dan mulai dikibarkan.
Bendera terbesar dibawa oleh
Samsidi rencananya dikibarkan pada tiang tertinggi dimana biasa dikibarkan
bendera Hinomaru. Saat kami sampai, bendera Hinomaru sudah tidak ada berikut
tali benderanya sudah diambil. Saya minta Sutedjo Eko naik kepodium dan meminta
sukarelawan untuk naik ketiang bendera utama dan memasangkannya.
Seorang pemuda melompat keatas
podium, mengalungkan merah putih ke lehernya dengan cekatan memanjat tiang.
Ribuan massa terdiam seakan tersihir,
semua mata tertuju pada tiang bendera utama. Dengan tangan dan gigi bendera itu
berkibar, si pemanjat pun turun.
Tiba-tiba terdengar pekik
merdeka, entah siapa yang meneriakkan dan seolah-olah massa pun terbangun dari
tidurnya. Riuh rendah pekik merdeka bersahutan tiada henti meledak diangkasa
bersamaan dengan kepalan-kepalan tangan yang teracung, ada tangan kanan, ada
tangan kiri. Hatiku penuh rasa sukur kepada Tuhan, bangga, riang gembira,
syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ingin saya menari, bernyanyi,
berteriak dan ingin menangis untuk melapangkan dada yang rasanya sesak oleh
rasa haru dan gembira.
Saya naik keatas podium, dibawah
kibaran sang saka yang telah sejak beratus-ratus tahun untuk pertamakalinya
berkibar di Pangkalan Angkatan Laut Ujung bersama Sutedjo Eko disamping saya.
Saya nyatakan Pangkalan Angkatan Laut sebagai milik Republik Indonesia.
Diakhiri dengan pekik merdeka sebanyak tiga kali, saya melihat dihadapan, wajah
bangsaku yang berseri-seri, bangga, dengan sorot mata yang keras, menantang,
berani dan disanasini nampak airmata yang meleleh tak tertahankan lagi.
Dalam saat-saat yang demikianlah
kami bersama-sama ucapkan sumpah “Saya rela dan ikhlas mengorbankan harta benda
maupun jiwa raga untuk Nusa dan Bangsa”. Dalam perjuangan selanjutnya dikenal
sebagai “Sumpah Ujung”.
Seluruh pasukan Jepang yang
menyerah dikumpulkan di lapangan Pasiran.